Ari Kuncoro's BlogPosts RSS Comments RSS

Tag Archive 'puisi'

Senja di Lakeshore

senja di lakeshore

Sore yang sepi,
berpendaran jingga langit…
mengingatkanku pada masa kelabu..
pilu…
sendu…

Sesaat setelah itu malam menjelang
Jingganya langit berubah menjadi hitam
Temaram…
Kelam….
Seram…

Biarlah rasa ini menjadi batu ketika memang itulah suratannya…
Biarlah hati ini menjadi beku ketika hawa dingin menyerang…
Biarlah lilin ini meleleh habis ketika cahaya api menyulut sumbunya…

Namun masih ada harapan,
laksana rusa yang rindu akan hadirnya sungai,
laksana anak burung yang mendambakan sang induk kembali mendapatkan santapan…

setelah senja dan malam berlalu,
pasti terbit mentari menghangatkan
pasti datang embun menyejukkan…

:p ;)

Dhaka, 16 Juni 2010

Pantai Waktu

Detik demi detik
Menit demi menit
Jam demi Jam
Hari demi hari
Minggu demi minggu
Bulan demi bulan
Tahun demi tahun
Windu demi windu

kulalui…

selalu dengan membelai pantai
yang terkadang terkena pasir, karang, atau bebatuan
Buihku datang mencari secercah harapan dan menggapai impian,
meski terkadang terlalu keras menerpa… atau lembut menyapa…

Pantai waktuku membawa alegori kesetiaan
Ombak datang terus menerus
waktu demi waktu
Menyapa bibir pantai
Merasakan hantaman kerasnya karang,
Menyisik lembutnya pasir,
Atau beramarah laksana kejamnya tsunami.

Seiring bertambahnya waktu…
Hidup perlu keseimbangan…
Antara sedih dan senang
Gembira dan Sungkawa…
Dewasa dan Candaan…

Jika interospeksiku terlalu dalam,
Biarlah sang pembaca yang menguburnya agar menjadi dangkal. :D

Terima kasih kawan2, atas ucapan selamat ulang tahunku yang ke-23!
Tentu saja, terima kasih kepada Tuhan yang selalu memberkati, orang tua yang selalu mendoakanku tiap pagi, keluarga, kawan2, dan teman2 semua. Juga orang terkasih, yang masih setia laksana pantai waktu dalam puisiku. :D

Burung Elang

burung elang

Foto koleksi pribadi

Burung elang terbang mengangkasa cakrawala
Cakrawala nan biru menghiasi rasa
Turun ketinggian si burung elang
melihat paradigma alam lewat netranya

Bunga mekar berwarna-warni
merah, nila, ungu, jingga, dan kuning.
Bumi hijau tanah subur makmur memesona
Netra dingin segar kala terpercik air murni nan bening

Hati elang yang tlah lama beku dan tersayat
segera terobati…
akan hadirnya senyuman yang berharap setia menemani.

Senyuman yang tak bisa lepas
Senyuman yang tak bisa hilang
Senyuman yang menyejukkan jiwa

Elang datang setelah melanglang
Dan berani melewati tantangan
Tak gentar oleh siapa dan apapun…
Kecuali Sang Pencipta dan Khalik-Nya.

Puisi Surga

Jika engkau dapat terbang dengan sayap putih itu,
tolong pergilah ke tempat yang damai.
Hisap sari kedamaiannya,
dan sebarkan padaku…

Kau dan aku akan terberkati,
oleh karena harum semerbak bunga kedamaiannya.

Hmmm, cinta…
bagaikan pelangi yang muncul setelah hujan gerimis,
kau amat cantik,
hingga mampu membuatku nyaman…

inikah surga?
mungkin…

(diterjemahkan dari postingan sebelumnya)
Terisnspirasi dari kerinduan yang amat dalam. :-)

Mencoba Berpuisi Kembali

Wah, sudah lama saya tidak merambah dunia puisi sejak SMP. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, dulu saya sempet juara 1 se-DIY untuk lomba deklamasi, lho. Mmm, tidak ada hadiah uang tunai, namun ada tambahan nilai +2 untuk NEM saya. Jadi, bisa masuk SMA 3 Padmanaba dengan leluasa. Meskipun, tanpa itu pun bisa masuk2 saja.

Click to continue reading “Mencoba Berpuisi Kembali”