Musik, Olah Raga, Puisi, Foto, dan Teknologi | Ari Kuncoro's BlogPosts RSS Comments RSS

Sebuah perjalanan

Tak disangka dan tak diduga. Begitulah rangkaian frase yang terlepas dari mulut saya akibat pertemuan dengan seorang pria berperawakan sedang, berpakaian lumayan rapi, mengenakan tas kecil hitam, dan masih satu trah dengan saya, yakni dari suku Jawa, entah keturunan majapahit atau abdi dalem. saja. Hehe. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta, yang serba mendadak kemarin, membuat pikiran saya terbuka lebar mengenai apa artinya hidup. Ngeri, tetapi wajar, wajar, tetapi tidak pula wajar.

Di antara dua gerbong kereta Parahyangan, antara gerbong reservasi dan gerbong kelas eksekutif, duduklah kami berdua berlesehan, tanpa alas koran ataupun tikar. Tempatnya amat sempit. Tepat di depan saya adalah pintu toilet. Dari situ, saya yang memulai membuka obrolan. Yah, entah mengapa, akhir-akhir ini saya selalu berpikir sangat positif. Daripada tiga jam perjalanan ini saya lalui dengan diam tanpa makna dan tanpa kenangan, lebih baik menambah pengetahuan dengan berdiskusi dengan orang lain. Itu lebih baik, daripada berpikir yang tidak-tidak.

Tak disangka dan tak diduga, maaf, frase ini saya ulangi lagi, dia adalah mantan narapidana. Pernah di Cipinang, Salemba, dan Nusa Kambangan. Hidup sempat mengalami masa kelam. Pernah membunuh, merampok, merampas, tetapi selalu berderma bak robinhood. Aneh. Ajaib. Dia pun pernah ke Aceh, setelah gempa tsunami dahsyat, untuk memberikan sumbangan hasil rampokannya.

Di sudut matanya, tidak ada rasa penyesalan mendalam. Tidak ada rasa dendam pula. Bahkan, terkesan dia selalu bersyukur dengan apa yang dia dapatkan sekarang.

Dari sini, saya belajar tentang karakter dan pengalaman hidup seseorang. Bisa ia pernah jahat, bisa ia pernah baik. Mungkin yang harus saya selami adalah permakluman. Sikap jujur beliau memang perlu diteladani. Tapi perjalanan hidup kelam beliau masa lalu, harap dipahami sebagai pelajaran saja, tanpa harus mengalaminya.

Singkat cerita,

Perjalanan ini saya lalui tepat waktu, tiga jam. Melewati tanah Jawa Barat yang begitu luas membentang, menyusuri jembatan-jembatan berlubang tapi kokoh menopang kereta.

Tak biasanya, karena saya sering bertemu dengan orang baik, atau orang yang pura-pura baik terhadap saya. Atau orang-orang yang hanya berani di belakang saya, sehingga banyak sekali senjata yang menikam saya dari belakang.

Ya, itulah dunia.

Related posts:

  1. Perjalanan Cinta Sejati Berikut ini perjalanan sebuah kereta yang melewati stasiun-stasiun pemahaman...
  2. Kata Puisi Cinta Akhir-akhir ini saya melalui hari seperti melewati gelombang sinusoidal...
  3. Meraih dan Mempertahankan Meraih dan mempertahankan adalah dua proses berurutan. Makanya saya...
  4. Tips Sehat Facebook-an Tips dan trik menyiasati penyalahgunaan facebook....
  5. Arung Jeram Sudah lama saya tidak menyentuh blog ini. Hehe. Ada...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Reply