Sebelum memasuki ruang tunggu yang beraura India ini, saya harus melewati detektor plus petugas yang lumayan ketat. Kala itu detektor berbunyi ketika saya melewatinya. Mungkin karena sabuk saya berbahan metal. Lantas saya digerayangi oleh seorang petugas untuk meyakinkan bahwa saya aman dari bahan peledak. Sayang, petugasnya laki-laki. :-(

Di dalam ruang tunggu saya mengisi formulir keimigrasian. Nuansa Bangladesh mulai terasa lagi, karena tulisan aksara Hindi menghiasi formulir itu.

Tak lama kemudian, panggilan untuk masuk pesawat berbunyi. Pesawat Singapore Airlines ini adalah pesawat Boeing 777. Sama seperti flight SQ dari Cengkareng ke Changi. Perjalanan malam ditempuh sekira 3-4jam. Telinga saya sempat mampet, karena tekanan udara di ketinggian lebih besar ketimbang di daratan.

Makan malam di pesawat SQ ini sangat nikmat. Yang paling berkesan adalah beverage dan dessert-nya. Saya kala itu pesan red wine untuk beverage. Sedangkan dessert adalah coklat berisikan es krim lezat, berbungkus plastik seperti snack biasa, made in Thailand. Awalnya saya kira bukan es krim.

Sesampai di Dhaka, saya lantas menuju imigrasi untuk cek visa. Lagi-lagi antre yang lumayan lama, setengah jam. Prosedur ini memang wajib dilakukan.

Bandara ini lebih jelek dari Soekarno Hatta. Kalau saya beri urutan dari bagus ke jelek, Changi-Cengkareng-Dhaka. Yaaah, kualitas bandara antara Changi dan Dhaka seperti pinang dibelah lima. he he… Tapi, maklum lah.

Keluar dari ambil bagasi, saya langsung cari kendaraan menuju hotel tempat saya menginap. Beruntunglah masih ada travel ke hotel. Kala itu jam tangan saya menunjuk ke angka jam 2 malam (WIB), atau jam 1 malam (waktu Dhaka). Seorang petugas yang kartu namanya masih saya simpan mempersilahkan saya menunggu di lobby, untuk memanggil driver. Tapi, sayang… tak ada driver dan mobil lagi sehingga saya harus menggunakan “taxi”.

Ternyata yang dimaksud taxi adalah mobil sejenis kijang warna putih. Hmm… saya mesti merogoh kocek sekitar 700 taka (1 taka = 133 rupiah) untuk sampai ke hotel Sheraton yang jaraknya sekira 10 km dari Airport.

Ada satu hal yang disampaikan petugas kepada saya yaitu “There are many mosquitos! but it is not harm!”

Yap… memang banyak nyamuk di luar airport. Namun, dia bilang nyamuk2 ini tidak berbahaya.

Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Kiri kanan jalan jarang ada lampu alias gelap. Kendaraan yang lalu lalang pada malam itu kebanyakan truk-truk pengangkut barang.

Akhirnya, sampai juga di Dhaka… Tidur lelap saya, malam itu.

(Tamat)

Share
Tagged with:
 

2 Responses to Perjalanan Pertama ke Dhaka (bagian 2)

  1. Hahaha….pantesan ngga ada foto2 bandara di india nya.

    Nyamuk nya ngga berbahaya, tapi tetep saja gimana gituh rasanya, pasti gatal gatal.

    Taksi yang dimaksud mungkin adalah mobil kancil, mobil pengganti bajaj yang sangat efisien bahan bakar, sangat murah, dan polusi rendah

  2. arikuncoroNo Gravatar says:

    Bukan India, Bung Ravimalekinth… :-) Dhaka… Dhaka… he he. Entah, 11 12 atau nggak. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.