Genap sudah tiga minggu saya di negeri orang. Rentang waktu yang tadinya seminggu, telah diperpanjang dua minggu. Yup, pada 14 Maret 2010 lalu saya terbang untuk pertama kalinya keluar Indonesia. Dan Bangladesh menjadi negara pertama yang beruntung saya kunjungi. (sebenarnya tidak juga, karena Singapore jadi tempat transit saya). Ada rumor lagi bakal diperpanjang satu bulan untuk project berikutnya hingga akhir April. Fiuuuh… ada senang (karena angka rekening tabungan bakal bertambah), dan ada duka (karena tidak bisa merayakan Paskah bersama keluarga seperti biasa). yup… seperti itulah kira-kira “big picture” perasaan saya pada hari ini.

Koper medium ukuran 25 inchi dan satu tas backpack laptop menemani saya terbang menempuh rute Cengkareng-Changi-Dhaka. Karena ini pengalaman pertama keluar negeri, prosedur keimigrasian dan tetek bengeknya, saya tidak paham. Untunglah, saya bisa minimal baca, ngomong, dan mendengarkan bahasa Inggris. Thanks to my English Teachers!

Well, well, well… towel towel.

Dari kos sampai Cengkareng, saya langsung naik Taksi Blue Bird. Ealah… wong jowo supire. Gunung Kidul! he he tetangga dekat lah, sama kampung saya dulu di Bantul, Jogja, tempat saya menimba ilmu di bangku SMP. Beliau menemani saya ngobrol selama perjalanan dari Mampang ke Cengkareng. Cerita tentang masa depan dan masa lalu, intinya. Seperti petuah orang tua ke anak muda. wekekek… Thx, Pak!

Di Cengkareng, banyak sekali orang yang berpakaian putih yang akan berangkat Haji/Umroh. Rombongan! Mereka antre untuk pengecekan visa. Lumayan panjang antrenya, sekitar 20 menit.

Hal yang harus dilakukan pertama kali untuk bisa antre di sini adalah cap bebas fiskal, kalo nggak, ya bayar fiskal. Anda harus berjalan sedikit ke arah loket pajak. Butuh fotokopi NPWP dan atau kartu keluarga untuk mendapatkan cap tsb.

Masuk ke ruang tunggu, saya harus mengalami pengecekan lagi. Lagi-lagi mengantre. Di situ, kita nggak boleh bawa botol minuman/air. Tiba2 saya sangsi, botol2 aerosol macam parfum, yakult (buat penenang perut), shampo, dll, ada di koper bagasi/kabin. Was-was bakal sampai atau tidak di Bangladesh. Ternyata ada peraturan tidak boleh membawa botol lebih dari 100 ml (CMIIW).

Di ruang tunggu saya juga menemui rombongan. Bedanya mereka berpakaian seragam Tshirt merah dan anak-anak muda, lebih muda dari saya. Yaaah, seumuran anak SMA lah. Cuma, badan mereka rata-rata gedhe2. he he… Bule US ternyata. Mereka juga naik satu pesawat dengan saya ke Singapore, menggunakan Singapore Airlines, kemungkinan besar sih untuk transit.

Ini juga kali pertama saya merasakan pesawat yang besar. Satu baris ada 9 kursi, 3-3-3. Jadi ada dua lintasan jalan khusus pramugari/a yang melayani. Usut punya usut, pesawat yang saya tumpangi adalah tipe Boeing 777. Terus terang, lebih bagus dari Garuda yang biasanya saya tumpangi selama penerbangan domestik. Tempat duduknya lebih lebar dan leluasa.

Singapore Airlines

Hampir dua jam perjalanan berlalu. Kala itu saya memilih daging domba untuk menu makan siang. Saya tidak duduk di samping jendela, karena sudah habis. Di samping saya ada kawan dari Mumbai, yang bekerja untuk Ericsson, menangani project XL. Tak sempat bertanya tentang email/apa karena kami saja berkenalan ketika pesawat sudah landing. Hehehe… (aku kan pemalu… hu hu hu). Ternyata kita berdua kompetitor.

Sampai di Bandara Changi, saya merasa masuk mall Grand Indonesia tapi lebih lebih luas. Sepatu Puma saya pun dimanjakan oleh empuknya karpet seluas lantai Airport. Di sudut sana ada water tap untuk minum, money changer, free hotspot internet, toko oleh2, toko elektronik, taman bunga aggrek asli, kolam renang (walaupun belum sempat mengunjungi), dan macam-macam tempat entertainment lainnya seperti bioskop dan fitness centre. Soekarno Hatta Airport serasa terminal bus :-( kalau saya bandingkan dengan Changi.

Anggrek
Kebon Anggrek

 

Mantabs betul Bandara Changi Singapore ini.

Saya waktu itu menghabiskan waktu 2-3 jam untuk jalan-jalan di sekitar Airport.

Selanjutnya, keberangkatan ke Dhaka jam 20.35. Aura-aura orang India sudah terasa di ruang tunggu. Ada ibu-ibu yang memakai sari, bapak-bapak berkumis tebal dan berkulit hitam macam Inspektur Sukram di film-film India.
(Bersambung …)

Share

Artikel yang berkaitan lainnya:

  1. Perjalanan Pertama ke Dhaka (bagian 2)
  2. Hujan Pertama di Dhaka
  3. Perjalanan Cinta Sejati
  4. Terpaksa Masak di Dhaka
  5. Pengalaman Pertama Ke Luar Negeri

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tagged with:
 

4 Responses to Perjalanan Pertama ke Dhaka (bagian 1)

  1. dansatNo Gravatar says:

    jap, the first to many.. semangat ya cor

    [Reply]

  2. mezoNo Gravatar says:

    don’t you know that Changi is the top first rank amongst other international port hub? the Singaporean are really invested their intangible asset to boost up its state to become competitive, brother. so no wonder lah… ;)

    [Reply]

  3. memang, changi itu the best of the best deh :D

    [Reply]

  4. ip cameraNo Gravatar says:

    Brilliant article bro. This unique is just a totally nicely structured posting, just the important information I was hunting regarding. Cheers

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>