Ari Kuncoro's BlogPosts RSS Comments RSS

Horn, Please!

Ada suatu kebiasaan buruk Orang Bangla di jalanan. Sopan santun mengemudi nampaknya kurang begitu diperhatikan. Apakah ini hanya opini saya??? Sehingga menurut mereka kalau tidak melakukannya malah dianggap tidak sopan???

Khusus yang jadi perhatian saya adalah masalah klakson. Sebenarnya tidak masalah jika malam hari, karena malam hari tak banyak kendaraan lalu lalang di sekitar apartemen. Jadi, amanlah telinga saya. Yang jadi masalah, ketika week end atau pengin bangun siang karena malam hari kerja…

Saya tidak bisa meneruskan mimpi indah saya hingga tuntas. Bagaimana tidak???
tiap menit tiap detik pasti ada bunyi klakson!
zzz…

Mungkin benar, harus ada sumpel kapas sepanjang tidur, supaya tidak terbangun gara-gara konser musik klakson jalanan. Apakah dalam bayangan mereka ada tulisan “Horn, please!” di belakang truk, seperti salah satu foto berikut???

horn please
Gambar diambil dar www.knoxpix.com. (Kemungkinan besar truk ini ada di wilayah India)

Nampaknya benar. :-( Padahal kan ini truk barang, ya??? saya masih bisa maklum lah… tapi kalo semua mobil tin tin tun tun horn horn… polusi suara, Bhai! :-). Rasa ingin pulang membara!!! ha ha ha. HORE!!! Sebentar lagi…

Artikel yang berkaitan lainnya:

  1. Gitar
  2. Di Mana Tuhan?
  3. Shower Mati ketika Mandi
  4. Perjalanan Pertama ke Dhaka (bagian 2)
  5. 21 Hari Menuju 500 Hari Ngeblog

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

2 Responses to “Horn, Please!”

  1. on 22 Apr 2010 at 1:16 pmmezoNo Gravatar

    weleh, kaya di jkt ga aja cor =P
    mungkin tata letak tempat tinggal yg terlalu mepet dgn jalan raya jd lu merasa bising, cor. dr cerita lu keliatan lah kalo tata ruang kota di bangla masih kudu byk perbaikan, ya ga seh =P

    HONK!

    hehehe

    [Reply]

    arikuncoroNo Gravatar Reply:

    yoi… Mez. Memang, tata kota masih belum baik di sini. Jakarta juga begitu adanya. Gw jg gak menutup mata maupun telinga. Buktinya, gw masih bisa denger klakson!!! HONK.. hehe

    Dari sini gw jg bisa belajar, bahwa kemakmuran suatu negara itu sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. Masih banyak warga yang belum berpendidikan di Bangladesh, terutama yang berumur 40 thn ke atas.

    Naaah, sekarang, Bangladesh itu sedang gencar2nya memajukan bidang pendidikan. Mereka sangat menyadari hal itu kalau gw baca di surat kabar.

    Satu hal yang menjadi kelebihan, Bahasa Inggris sangat umum digunakan. Tukang becak saja bisa bahasa Inggris, meskipun sepotong2. Bahasa inggris merupakan bahasa kedua setelah bahasa Bangla.

    Gw yakin, kl pemerintah Indonesia bener2 investasi ke pendidikan, Indonesia bakal maju, meskipun baru terasa efeknya 20-30 tahun mendatang. Nggak usah repot2 bikin UU cacat moral pemimpin, rakyat masih bisa mikir jernih dan tidak mudah dihasut untuk memilih pemimpin yang terbaik.

    Dan, bukan mustahil, nantinya Bangladesh bakal lebih baik dari Indonesia tidak hanya dari segi tata kota, setelah masyarakatnya punya wawasan luas dan pemikiran yang terbuka. Sampai sekarang ini masyarakat Bangladesh sedang giat2nya membangun negara serta masih harus berjuang dengan krisis listrik, air, dan gas. Mereka pekerja keras, namun… tuntutan hidup dan kemiskinan masih menjadi kendala hidup mereka.

    [Reply]

Leave a Reply