Ari Kuncoro's BlogPosts RSS Comments RSS

Archive for the 'Jalan-Jalan' Category

Berikut 27 fakta mengenai Bangladesh, berdasarkan hasil pengamatan saya selama tinggal 1,5 bulan di Dhaka, ngobrol2 sama kawan2, dan baca surat kabar lokal.

1. Dhaka memiliki enam musim (tiap 2 bulan ganti musim!) Nggak capek apa ya? Tiap dua bulan ganti musim…. Katanya yang paling parah itu bulan Juni/Juli. Bulan itu lagi bulan badai.

2. Orang Bangla suka makan permen Bangla, seperti gabah (kulit padi) sebagai hidangan pencuci mulut sehabis makan, tapi rasanya manis. Anda pertama kali tidak akan mengira kalau itu permen. he he.

3. 90% lebih penduduknya beragama Islam. Selebihnya Hindu dan sebagian kecil Kristen.

Click to continue reading “27 Fakta Mengenai Bangladesh”

Horn, Please!

Ada suatu kebiasaan buruk Orang Bangla di jalanan. Sopan santun mengemudi nampaknya kurang begitu diperhatikan. Apakah ini hanya opini saya??? Sehingga menurut mereka kalau tidak melakukannya malah dianggap tidak sopan???

Khusus yang jadi perhatian saya adalah masalah klakson. Sebenarnya tidak masalah jika malam hari, karena malam hari tak banyak kendaraan lalu lalang di sekitar apartemen. Jadi, amanlah telinga saya. Yang jadi masalah, ketika week end atau pengin bangun siang karena malam hari kerja…

Saya tidak bisa meneruskan mimpi indah saya hingga tuntas. Bagaimana tidak???
tiap menit tiap detik pasti ada bunyi klakson!
zzz…

Mungkin benar, harus ada sumpel kapas sepanjang tidur, supaya tidak terbangun gara-gara konser musik klakson jalanan. Apakah dalam bayangan mereka ada tulisan “Horn, please!” di belakang truk, seperti salah satu foto berikut???

Click to continue reading “Horn, Please!”

Di dekat KBRI Dhaka, ada sebuah kefe yang lumayan cozy. Namanya Kafe “Bitter Sweet”. Jarang ditemukan di Dhaka. Konsepnya minimalis, futuristik, dan modern. Lampionnya berwarna putih dengan pendaran cahaya lampu kuning. Menu yang disajikan kebanyakan ala Italia seperti pasta, capuccino, dan masakan ala barat lainnya seperti french fries. Harganya pun pada kisaran normal, sekira 260 taka untuk satu buah pasta dan 160 taka untuk satu hot chocolate.

Kafe ini beralamat di Road 53 Gulshan 2, Dhaka. Sebelah KBRI persis. Pertama kali pasti Anda tidak mengira ini kafe, karena Anda cuma menjumpai tulisan “OPEN” di lantai bawah. Usut punya usut, ada kafe yang berada di lantai dua. Anda harus olah raga sedikit. Satu hal yang pastinya saya tidak akan pernah tahu, kecuali ada sang pemandu! Yap, ada salah seorang rekan saya, Kukuh, yang merekomendasikan kami pergi ke kafe tersebut. Kukuh merupakan staf KBRI Dhaka, sudah tinggal di Dhaka hampir 4 tahun. :-)

Anda mau lihat screen syut kafe tersebut? Ini dia…

Click to continue reading “Kafe Bitter Sweet”

Lampung dan Laut

Lampung. Provinsi di paling selatan pulau Sumatera ini kaya sekali akan potensi wisata laut. Pemandangan pantai dan pulaunya luar biasa. Dan yang lebih membanggakan, ini tanah kelahiran saya!

Anda bisa lihat koleksi bidikan kamera saya berikut:

Laut Lampung

Seorang rekan kerja dari Jerman bilang bahwa, “Ini keren banget, Man! ngapain elu pindah ke Jakarta?” ha ha ha…. yah, begitulah, tuntutan kerja. Kalau ada kendaraan supercepat 15 menit dari Lampung ke Jakarta dan murah, barangkali saya akan nglaju dan tinggal di Lampung. Mimpi!

Terpaksa Masak

Yup… karena kebosanan tiada terkira akan makanan yang itu-itu saja. KFC, Pizza, KFC, Pizza, Chinesse Food, Thai Food, dan macam-macam berbagai masakan lokal seperti biryani, dan sebangsanya, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke suatu tempat yang bisa memungkinkan kami masak.

Mas Ori, rekan kerja saya, ternyata jago masak juga, euy. Nggak salah saya. Coba lihat screen shootnya!
Masakan Ori
1. Sop jagung wortel
2. Spagheti
3. Ayam kecap + Oseng-oseng sawi, wortel, jagung.
4. kalau ini bukan masakan Mas Ori. Ini adalah kue sajen wajib orang Bangla yang lagi selametan. Entah itu ulang tahun, kelahiran bayi, dan semacamnya. Rasanya manis, semanis senyuman Sandra Dewi. Rasa susu, keju, dan gulanya terasa…. Bung!

Saya sih kebagian motongin bumbu cem bawang putih dan bawang bombay. Sama satu lagi: ngliwet, alias masak nasi. :-)

Yaaah, mayan, ada kegiatan ketika di luar kantor. Habis, hiburan tak ada. Boro-boro ngarep hiburan. Listrik aja mota mati tiap tiga jam sekali. Nasib.

Segera selesailah project ini, dan apa yang bisa saya bantuuuuu, Tuan?

Ketika week end kemarin, di sebuah pelabuhan sungai kota Dhaka, banyak sekali benda oval bulat berwarna hijau tanpa lurik-lurik. Saya kira itu timun suri. Ternyata semangka.

Yup, di Dhaka lagi musim semangka. Satu buah bisa dihargai 50 Taka. Bisa juga harganya per kilo. Mari kita lihat screen shootnya… :-)

Musim Semangka di Bangladesh

Ketika musim berganti, tempat ini menjadi berubah ujud jadi lautan nanas, ketika musim nanas. Ha ha ha…
Terlihat di sudut foto itu ada seorang mandor yang sedang menunggu dagangan semangkanya. :-)

Anda pernah mandi? (ya, pernah, lah…. masak belom pernah?)
Berapa sering Anda mandi? (dua kali sehari, cui…)
Pernahkah Anda mandi tapi daki tidak digosok? (eh, maksud lo nanya ini apa??)
Jawab aja napa seh, susah amat! haha… (santai, Bung!)

Jadi gini, gw mau nanya ama lu, pernah nggak lu mandi, pas pake sabun, tiba2 shower mati? (hahahaha… oooh, maksudnya lu mau curhat kalo lu pernah ngalamin kejadian kayak gitu?)

Iya, betul saudara-saudara. Kejadian ini saya alami beberapa hari lalu. Pemerintah Kota Dhaka menghimbau rakyat supaya hemat air dan listrik. Toko-toko diminta tutup maksimal jam 7 malam (awalnya jam 8 malam). Kalau di atas jam 7 malam, harus ada izin. Kalau nggak, ya… pake genset sendiri. Genset aja harus bayar pajak, katanya.

Anda bisa bayangkan, masih asyik sabunan, tiba-tiba air mati, badan belom dibilas. maknyus… maknyus… Pak Bondan!
Untung (orang Jawa emang selalu untung), setelah air ngalir lagi 3 jam kemudian, saya bisa bilas diri… kalo nggak, semaleman saya wangi sabun dah.

Sekian cerita hari ini. :-) semoga Anda tidak mengulangi kekonyolan saya.

Berikut ini tempat-tempat penting di Dhaka:

1. Lalbagh Fort (tempat wisata yang berupa bekas istana)
Lalbagh Fort

Click to continue reading “Tempat-Tempat Penting di Dhaka”

Sebelum memasuki ruang tunggu yang beraura India ini, saya harus melewati detektor plus petugas yang lumayan ketat. Kala itu detektor berbunyi ketika saya melewatinya. Mungkin karena sabuk saya berbahan metal. Lantas saya digerayangi oleh seorang petugas untuk meyakinkan bahwa saya aman dari bahan peledak.

Click to continue reading “Perjalanan Pertama ke Dhaka (bagian 2)”

Genap sudah tiga minggu saya di negeri orang. Rentang waktu yang tadinya seminggu, telah diperpanjang dua minggu. Yup, pada 14 Maret 2010 lalu saya terbang untuk pertama kalinya keluar Indonesia. Dan Bangladesh menjadi negara pertama yang beruntung saya kunjungi. (sebenarnya tidak juga, karena Singapore jadi tempat transit saya). Ada rumor lagi bakal diperpanjang satu bulan untuk project berikutnya hingga akhir April. Fiuuuh… ada senang (karena angka rekening tabungan bakal bertambah), dan ada duka (karena tidak bisa merayakan Paskah bersama keluarga seperti biasa). yup… seperti itulah kira-kira “big picture” perasaan saya pada hari ini.

Click to continue reading “Perjalanan Pertama ke Dhaka (bagian 1)”

Next »