Di Dhaka, tas plastik kresek jarang digunakan. Sudah menjadi kebiasaan mungkin, bagi masyarakat Bangladesh untuk tidak menggunakan tas plastik. Mereka menggunakan kantong kertas atau kantong kain untuk membawa barang belanjaan mereka. Saya mengetahui hal ini ketika saya berbelanja di Agora atau Nandan Market. Ini dia screen syut nya… :-)
Screen syut menyusul, ya! Kamera saya tertinggal. :-(
Indonesia? Jangan ketinggalan! Mari kita galakkan kampanye untuk memerangi GOMBAL WARMING! (eh, salah… GLOBAL WARMING maksud saya.) hi hi hi.
Lampung. Provinsi di paling selatan pulau Sumatera ini kaya sekali akan potensi wisata laut. Pemandangan pantai dan pulaunya luar biasa. Dan yang lebih membanggakan, ini tanah kelahiran saya!
Anda bisa lihat koleksi bidikan kamera saya berikut:

Seorang rekan kerja dari Jerman bilang bahwa, “Ini keren banget, Man! ngapain elu pindah ke Jakarta?” ha ha ha…. yah, begitulah, tuntutan kerja. Kalau ada kendaraan supercepat 15 menit dari Lampung ke Jakarta dan murah, barangkali saya akan nglaju dan tinggal di Lampung. Mimpi!
Malam ini sengaja saya tidak tidur cepat, karena mata masih belum mau terpejam. Saya masih asyik dengan bacaan milis kampus Ganesha 10 tercinta. Ada keramaian milis di sana, sehingga saya hanyut dalam membaca.
Tiba-tiba saya terusik dengan latar suara yang mengusik kesunyian malam. Kota Dhaka beda malam ini. Tak setenang biasanya. Angin besar berhasil menyapu debu-debu dan melambaikan ranting pohon-pohon tinggi di jalan sekitar apartemen. Dari sudut jendela kamar lantai dua ini, terlihat debu-debu itu seperti kabut. Suara angin dan gemeretak kaca membuat suasana malam makin mencekam. Mungkinkah hujan? Ah, nampaknya tidak.
Yup… karena kebosanan tiada terkira akan makanan yang itu-itu saja. KFC, Pizza, KFC, Pizza, Chinesse Food, Thai Food, dan macam-macam berbagai masakan lokal seperti biryani, dan sebangsanya, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke suatu tempat yang bisa memungkinkan kami masak.
Ketika week end kemarin, di sebuah pelabuhan sungai kota Dhaka, banyak sekali benda oval bulat berwarna hijau tanpa lurik-lurik. Saya kira itu timun suri. Ternyata semangka.
Yup, di Dhaka lagi musim semangka. Satu buah bisa dihargai 50 Taka. Bisa juga harganya per kilo. Mari kita lihat screen shootnya… :-)

Ketika musim berganti, tempat ini menjadi berubah ujud jadi lautan nanas, ketika musim nanas. Ha ha ha…
Terlihat di sudut foto itu ada seorang mandor yang sedang menunggu dagangan semangkanya. :-)
Anda pernah mandi? (ya, pernah, lah…. masak belom pernah?)
Berapa sering Anda mandi? (dua kali sehari, cui…)
Pernahkah Anda mandi tapi daki tidak digosok? (eh, maksud lo nanya ini apa??)
Jawab aja napa seh, susah amat! haha… (santai, Bung!)
Jadi gini, gw mau nanya ama lu, pernah nggak lu mandi, pas pake sabun, tiba2 shower mati? (hahahaha… oooh, maksudnya lu mau curhat kalo lu pernah ngalamin kejadian kayak gitu?)
Iya, betul saudara-saudara. Kejadian ini saya alami beberapa hari lalu. Pemerintah Kota Dhaka menghimbau rakyat supaya hemat air dan listrik. Toko-toko diminta tutup maksimal jam 7 malam (awalnya jam 8 malam). Kalau di atas jam 7 malam, harus ada izin. Kalau nggak, ya… pake genset sendiri. Genset aja harus bayar pajak, katanya.
Anda bisa bayangkan, masih asyik sabunan, tiba-tiba air mati, badan belom dibilas. maknyus… maknyus… Pak Bondan!
Untung (orang Jawa emang selalu untung), setelah air ngalir lagi 3 jam kemudian, saya bisa bilas diri… kalo nggak, semaleman saya wangi sabun dah.
Sekian cerita hari ini. :-) semoga Anda tidak mengulangi kekonyolan saya.
Berikut ini tempat-tempat penting di Dhaka:
1. Lalbagh Fort (tempat wisata yang berupa bekas istana)

Sebelum memasuki ruang tunggu yang beraura India ini, saya harus melewati detektor plus petugas yang lumayan ketat. Kala itu detektor berbunyi ketika saya melewatinya. Mungkin karena sabuk saya berbahan metal. Lantas saya digerayangi oleh seorang petugas untuk meyakinkan bahwa saya aman dari bahan peledak.
Click to continue reading “Perjalanan Pertama ke Dhaka (bagian 2)”
Genap sudah tiga minggu saya di negeri orang. Rentang waktu yang tadinya seminggu, telah diperpanjang dua minggu. Yup, pada 14 Maret 2010 lalu saya terbang untuk pertama kalinya keluar Indonesia. Dan Bangladesh menjadi negara pertama yang beruntung saya kunjungi. (sebenarnya tidak juga, karena Singapore jadi tempat transit saya). Ada rumor lagi bakal diperpanjang satu bulan untuk project berikutnya hingga akhir April. Fiuuuh… ada senang (karena angka rekening tabungan bakal bertambah), dan ada duka (karena tidak bisa merayakan Paskah bersama keluarga seperti biasa). yup… seperti itulah kira-kira “big picture” perasaan saya pada hari ini.
Click to continue reading “Perjalanan Pertama ke Dhaka (bagian 1)”
Lama sudah saya tidak bercerita di blog. Terlalu banyak waktu yang terbuang. Bukan terbuang sih tepatnya, tapi harus saya alokasikan untuk melihat tempat-tempat baru. Sebuah tempat yang amat jarang dikunjungi oleh para turis.
Tahukah kawan, negara pertama mana yang telah saya kunjungi? BANGLADESH.
Mungkin mimpi saya kurang spesifik. Kala itu saya hanya bilang pada diri saya bahwa saya akan kerja di luar negeri. Impian itu tercapai sih, memang. Namun, tempatnya kok?
Langsung saja, saya bercerita tentang pengalaman pertama ke luar negeri. Tujuan utama ke sana adalah pekerjaan. Dan, saya tidak akan bercerita tentang kerjaan saya. Saya hanya akan bercerita tentang proses, perbandingan, kelucu-an, dan kesenang-sedihan saya selama berada di sana.
Bersambung
Pages
Social networks
Help to translate
Don't laugh, appreciate please!Daily Popular
- Delapan Sumber Inspirasi Menulis (1)
- Popular posts by Top 10 plugin
Popular Posts
- Tips Belanja Crocs Sale di Senayan City (26164)
- Kata Cinta (13475)
- Tiga Cara Atasi Mencret (13289)
- Kata-Kata Mutiara (3524)
- Setting MMS and GPRS for LG KG200 with Simpati Telkomsel (3290)
- Ngetes XL Internet Unlimited di Kosan (3200)
- Nokia Chat (2822)
- Perjalanan Cinta Sejati (2796)
- Chord “Tak ada yang bisa” (2220)
- IM2 Speed Test, awesome in my room! (2152)
- Popular posts by Top 10 plugin
Comments
ray on Setting MMS and GPRS for LG KG200 with Simpati Telkomsel
neni hartati on 5 Artikel Favorit di Blog saya sepanjang 2010
Laras on 27 Fakta Mengenai Bangladesh
mhairi on Tips Belanja Crocs Sale di Senayan City
buah untuk diet on Dia Menuliskan Ceritamu
pandu on Tiga Cara Atasi Mencret
Guskar on Tiga Cara Atasi Mencret
franchise mall on All I Ask of You – ITB Graduation Ceremony July 2008
Tags
amazon arung jeram badminton Bangladesh blog Chord Cicatih Cinta crocs Curhat Dhaka facebook fakta Foto google gulshan hold indonesia Jalan-Jalan kata-kata cinta kata puisi cinta kuliner lagu love luar negeri lyrics mandi mencret microsoft MMS music Musik okezone perjalanan poem puisi Renungan rip routing semangat Song Sukabumi Tutorial wordpress yahooArchives
- October 2011 (1)
- September 2011 (1)
- July 2011 (1)
- June 2011 (1)
- May 2011 (1)
- January 2011 (3)
- December 2010 (2)
- November 2010 (1)
- July 2010 (3)
- June 2010 (7)
- May 2010 (4)
- April 2010 (14)
- March 2010 (5)
- February 2010 (4)
- January 2010 (9)
- November 2009 (2)
- September 2009 (4)
- August 2009 (1)
- July 2009 (2)
- June 2009 (3)
- May 2009 (2)
- April 2009 (6)
- March 2009 (6)
- February 2009 (1)
- January 2009 (3)
- December 2008 (2)
Friend's Blog
- Aditya Arie Nugraha
- Andry Ongkinata
- Bagus Prasetyo Wibowo
- Benedictus Widi Handoyo
- Bernardus Ari Kuncoro
- Bimas Abimanyu
- Budi Rahardjo
- Christine Siagian
- Credo Sibuea
- Damar
- Dana Satriya
- Dhemy Larasati
- Dias Ramadhan
- Dinda Elefani
- Dwi Larasatie Nur Fibri
- Fajar Fathurrahman
- Fajar Sastrowijoyo
- Grace Sahertian
- I Made Anantha Setiawan
- Irsalina Salsabila
- Irvan Tambunan
- Kemas Zakki Arief
- Khiko Rayesmara
- M. Arif Wicaksana
- M. Saiful Hidayat
- Made Geminastika
- Maria Elisabeth Suryatriastuti
- Marina Tampubolon
- Michael Hutagalung
- Mikha Valerint
- Randy H. W.
- Reza Aditya Permadi
- Rudy Sihombing
- Shana Fatina
- Sofwan Ardyanto
- Triadimas Satriya
- TurunBeratBadan
- Vanya Vabrina Valindria
- Veravinna Handoko
- Widianti Gunawan
- Wildan Aliviyarda

