Pantai Waktu
Detik demi detik
Menit demi menit
Jam demi Jam
Hari demi hari
Minggu demi minggu
Bulan demi bulan
Tahun demi tahun
Windu demi windu
Kulalui selalu dengan membelai pantai
yang terkadang terkena pasir, karang, atau bebatuan
Buihku datang mencari secercah harapan dan menggapai impian,
meski terkadang terlalu keras menerpa atau lembut menyapa
Pantai waktuku membawa alegori kesetiaan
Menyapa bibir pantai
Merasakan hantaman kerasnya karang,
Menyisik lembutnya pasir,
Atau beramarah laksana kejamnya tsunami.
Seiring bertambahnya waktu
Hidup perlu keseimbangan
Antara sedih dan senang
Gembira dan Sungkawa
Tangis dan Canda
Terima kasih kawan2, atas ucapan selamat ulang tahunku yang ke-23!
Tentu saja, terima kasih kepada Tuhan yang selalu memberkati, orang tua yang selalu mendoakanku tiap pagi, keluarga, kawan2, dan teman2 semua. Juga orang terkasih, yang masih setia laksana pantai waktu dalam puisiku.
Hari itu Jakarta serasa panas. Langit mendung. Tidak ada bantuan penyejuk udara yang mampu mengkondisikan badan di kamar. Setiap pori-pori tubuh saya mengeluarkan keringat. Kebetulan sekali sore itu saya ada janji dengan Hendra untuk pergi ke kebun binatang Ragunan. Saya ingin mempertajam seni penglihatan lewat bidikan kamera.
Nampak tidak ada sisa-sisa air hujan di sekitar jalan Warung Buncit menuju Ragunan. Namun begitu kami sampai di Ragunan terlihat beberapa kubangan air di tempat parkir motor. Ini menandakan hujan besar baru saja terjadi.
Ada seorang Sulung. Dia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sejak umur 12 tahun. Ada pula Bungsu, adiknya Sulung, yang baru genap usia 12 bulan saat orang tuanya meninggal. Sulung mau tidak mau menggantikan posisi kedua orang tuanya untuk menjadi kepala keluarga.
Rezeki demi rezeki ia cari, sehingga Sulung mampu menyekolahkan adiknya hingga sarjana. Adiknya lalu sukses besar sebagai petani kaya raya.
Suatu ketika Bungsu menikah. Lalu ia dikaruniai lima orang anak. Sementara Sulung tidak sempat menikah dan hanya hidup sendiri. Bungsu sangat hormat kepada Sang Kakak karena telah berjasa dalam hidupnya, berjuang membiayai dan memenuhi kebutuhannya. Suatu saat dia terpikir tentang kakaknya.

Foto koleksi pribadi
Burung Elang
Burung elang terbang mengangkasa cakrawala
Cakrawala nan biru menghiasi rasa
Turun ketinggian si burung elang
melihat paradigma alam lewat netranya
Bunga mekar berwarna-warni
merah, nila, ungu, jingga, dan kuning.
Bumi hijau tanah subur makmur memesona
Netra dingin segar kala terpercik air murni nan bening
Hati elang yang tlah lama beku dan tersayat
segera terobati…
akan hadirnya senyuman yang berharap setia menemani.
Senyuman yang tak bisa lepas
Senyuman yang tak bisa hilang
Senyuman yang menyejukkan jiwa
Elang datang setelah melanglang
Dan berani melewati tantangan
Tak gentar oleh siapa dan apapun…
Kecuali Sang Pencipta dan Khalik-Nya.
Pages
Social networks
Help to translate
Don't laugh, appreciate please!Daily Popular
Popular Posts
- Tips Belanja Crocs Sale di Senayan City (23664)
- Kata Cinta (13009)
- Tiga Cara Atasi Mencret (11161)
- Kata-Kata Mutiara (3422)
- Ngetes XL Internet Unlimited di Kosan (3154)
- Setting MMS and GPRS for LG KG200 with Simpati Telkomsel (3143)
- Perjalanan Cinta Sejati (2653)
- Nokia Chat (2430)
- IM2 Speed Test, awesome in my room! (2090)
- Chord “Tak ada yang bisa” (2089)
- Popular posts by Top 10 plugin
Comments
Guskar on Tiga Cara Atasi Mencret
franchise mall on All I Ask of You – ITB Graduation Ceremony July 2008
zhuhdi on Tiga Cara Atasi Mencret
zhuhdi on Tiga Cara Atasi Mencret
APRIL on Delapan Sumber Inspirasi Menulis
Cari Duit on Tiga Cara Atasi Mencret
agil asshofie on Tiga Cara Atasi Mencret
tarisya carmenita pal on Puisi Surga
Tags
amazon arung jeram badminton Bangladesh blog Chord Cicatih Cinta crocs Curhat Dhaka facebook fakta Foto google gulshan hold indonesia Jalan-Jalan kata-kata cinta kata puisi cinta kuliner lagu love luar negeri lyrics mandi mencret microsoft MMS music Musik okezone perjalanan poem puisi Renungan rip routing semangat Song Sukabumi Tutorial wordpress yahooArchives
- October 2011 (1)
- September 2011 (1)
- July 2011 (1)
- June 2011 (1)
- May 2011 (1)
- January 2011 (3)
- December 2010 (2)
- November 2010 (1)
- July 2010 (3)
- June 2010 (7)
- May 2010 (4)
- April 2010 (14)
- March 2010 (5)
- February 2010 (4)
- January 2010 (9)
- November 2009 (2)
- September 2009 (4)
- August 2009 (1)
- July 2009 (2)
- June 2009 (3)
- May 2009 (2)
- April 2009 (6)
- March 2009 (6)
- February 2009 (1)
- January 2009 (3)
- December 2008 (2)
Friend's Blog
- Aditya Arie Nugraha
- Andry Ongkinata
- Bagus Prasetyo Wibowo
- Benedictus Widi Handoyo
- Bernardus Ari Kuncoro
- Bimas Abimanyu
- Budi Rahardjo
- Christine Siagian
- Credo Sibuea
- Damar
- Dana Satriya
- Dhemy Larasati
- Dias Ramadhan
- Dinda Elefani
- Dwi Larasatie Nur Fibri
- Fajar Fathurrahman
- Fajar Sastrowijoyo
- Grace Sahertian
- I Made Anantha Setiawan
- Irsalina Salsabila
- Irvan Tambunan
- Kemas Zakki Arief
- Khiko Rayesmara
- M. Arif Wicaksana
- M. Saiful Hidayat
- Made Geminastika
- Maria Elisabeth Suryatriastuti
- Marina Tampubolon
- Michael Hutagalung
- Mikha Valerint
- Randy H. W.
- Reza Aditya Permadi
- Rudy Sihombing
- Shana Fatina
- Sofwan Ardyanto
- Triadimas Satriya
- TurunBeratBadan
- Vanya Vabrina Valindria
- Veravinna Handoko
- Widianti Gunawan
- Wildan Aliviyarda

