Berikut 27 fakta mengenai Bangladesh, berdasarkan hasil pengamatan saya selama tinggal 1,5 bulan di Dhaka, ngobrol2 sama kawan2, dan baca surat kabar lokal.
1. Dhaka memiliki enam musim (tiap 2 bulan ganti musim!) Nggak capek apa ya? Tiap dua bulan ganti musim…. Katanya yang paling parah itu bulan Juni/Juli. Bulan itu lagi bulan badai.
2. Orang Bangla suka makan permen Bangla, seperti gabah (kulit padi) sebagai hidangan pencuci mulut sehabis makan, tapi rasanya manis. Anda pertama kali tidak akan mengira kalau itu permen. he he.
3. 90% lebih penduduknya beragama Islam. Selebihnya Hindu dan sebagian kecil Kristen.
Wah, pagi-pagi ini entah kenapa jiwa petualang saya lagi kumat. Jarang-jarang, kumat! :-) Dari Mbah Google, saya mengetik kata kunci “milis backpacker Indonesia”. Namun, saya tidak terlalu tertarik dengan hasil buruan. Lantas saya masukkan kata kunci lain, yakni “travel backpacker Indonesia”. Tak dinyana, saya nyasar ke blog seorang penulis “The Naked Traveller”. Sang empunya website adalah seorang wanita Indonesia yang sudah melanglangbuana ke berbagai tempat di belahan dunia sejak tahun 2000-an. Nama penanya adalah Trinity.
Ada banyak sekali jumlah arsip blog. Mbak T, sapaan akhrab dari fans-fans blog, mulai menulis sejak 2005. Sejarahnya adalah sebagai berikut:
Click to continue reading “Meluncur ke Blog “Naked Traveler””
Ada suatu kebiasaan buruk Orang Bangla di jalanan. Sopan santun mengemudi nampaknya kurang begitu diperhatikan. Apakah ini hanya opini saya??? Sehingga menurut mereka kalau tidak melakukannya malah dianggap tidak sopan???
Khusus yang jadi perhatian saya adalah masalah klakson. Sebenarnya tidak masalah jika malam hari, karena malam hari tak banyak kendaraan lalu lalang di sekitar apartemen. Jadi, amanlah telinga saya. Yang jadi masalah, ketika week end atau pengin bangun siang karena malam hari kerja.
Saya tidak bisa meneruskan mimpi indah saya hingga tuntas. Bagaimana tidak???
tiap menit tiap detik pasti ada bunyi klakson!
zzz…
Mungkin benar, harus ada sumpel kapas sepanjang tidur, supaya tidak terbangun gara-gara konser musik klakson jalanan. Apakah dalam bayangan mereka ada tulisan “Horn, please!” di belakang truk, seperti salah satu foto berikut???
Di dekat KBRI Dhaka, ada sebuah kefe yang lumayan cozy. Namanya Kafe “Bitter Sweet”. Jarang ditemukan di Dhaka. Konsepnya minimalis, futuristik, dan modern. Lampionnya berwarna putih dengan pendaran cahaya lampu kuning. Menu yang disajikan kebanyakan ala Italia seperti pasta, capuccino, dan masakan ala barat lainnya seperti french fries. Harganya pun pada kisaran normal, sekira 260 taka untuk satu buah pasta dan 160 taka untuk satu hot chocolate.
Kafe ini beralamat di Road 53 Gulshan 2, Dhaka. Sebelah KBRI persis. Pertama kali pasti Anda tidak mengira ini kafe, karena Anda cuma menjumpai tulisan “OPEN” di lantai bawah. Usut punya usut, ada kafe yang berada di lantai dua. Anda harus olah raga sedikit. Satu hal yang pastinya saya tidak akan pernah tahu, kecuali ada sang pemandu! Yap, ada salah seorang rekan saya, Kukuh, yang merekomendasikan kami pergi ke kafe tersebut. Kukuh merupakan staf KBRI Dhaka, sudah tinggal di Dhaka hampir 4 tahun. :-)
Anda mau lihat screen syut kafe tersebut? Ini dia…
Malam ini saya mencoba mengurai sumber-sumber inspirasi menulis. Adapun tujuan saya menulis artikel ini adalah untuk membakar semangat Anda agar produktif dalam menulis. Anda akan bersemangat menulis jika Anda memiliki inspirasi. Dan menurut saya, sumber inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Nah, Anda mau tahu, delapan sumber inspirasi menulis menurut saya? Cekidot, cekidot!
Click to continue reading “Delapan Sumber Inspirasi Menulis”
Di Dhaka, tas plastik kresek jarang digunakan. Sudah menjadi kebiasaan mungkin, bagi masyarakat Bangladesh untuk tidak menggunakan tas plastik. Mereka menggunakan kantong kertas atau kantong kain untuk membawa barang belanjaan mereka. Saya mengetahui hal ini ketika saya berbelanja di Agora atau Nandan Market. Ini dia screen syut nya… :-)
Screen syut menyusul, ya! Kamera saya tertinggal. :-(
Indonesia? Jangan ketinggalan! Mari kita galakkan kampanye untuk memerangi GOMBAL WARMING! (eh, salah… GLOBAL WARMING maksud saya.) hi hi hi.
Lampung. Provinsi di paling selatan pulau Sumatera ini kaya sekali akan potensi wisata laut. Pemandangan pantai dan pulaunya luar biasa. Dan yang lebih membanggakan, ini tanah kelahiran saya!
Anda bisa lihat koleksi bidikan kamera saya berikut:

Seorang rekan kerja dari Jerman bilang bahwa, “Ini keren banget, Man! ngapain elu pindah ke Jakarta?” ha ha ha…. yah, begitulah, tuntutan kerja. Kalau ada kendaraan supercepat 15 menit dari Lampung ke Jakarta dan murah, barangkali saya akan nglaju dan tinggal di Lampung. Mimpi!
Malam ini sengaja saya tidak tidur cepat, karena mata masih belum mau terpejam. Saya masih asyik dengan bacaan milis kampus Ganesha 10 tercinta. Ada keramaian milis di sana, sehingga saya hanyut dalam membaca.
Tiba-tiba saya terusik dengan latar suara yang mengusik kesunyian malam. Kota Dhaka beda malam ini. Tak setenang biasanya. Angin besar berhasil menyapu debu-debu dan melambaikan ranting pohon-pohon tinggi di jalan sekitar apartemen. Dari sudut jendela kamar lantai dua ini, terlihat debu-debu itu seperti kabut. Suara angin dan gemeretak kaca membuat suasana malam makin mencekam. Mungkinkah hujan? Ah, nampaknya tidak.
Yup… karena kebosanan tiada terkira akan makanan yang itu-itu saja. KFC, Pizza, KFC, Pizza, Chinesse Food, Thai Food, dan macam-macam berbagai masakan lokal seperti biryani, dan sebangsanya, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke suatu tempat yang bisa memungkinkan kami masak.
Ketika week end kemarin, di sebuah pelabuhan sungai kota Dhaka, banyak sekali benda oval bulat berwarna hijau tanpa lurik-lurik. Saya kira itu timun suri. Ternyata semangka.
Yup, di Dhaka lagi musim semangka. Satu buah bisa dihargai 50 Taka. Bisa juga harganya per kilo. Mari kita lihat screen shootnya… :-)

Ketika musim berganti, tempat ini menjadi berubah ujud jadi lautan nanas, ketika musim nanas. Ha ha ha…
Terlihat di sudut foto itu ada seorang mandor yang sedang menunggu dagangan semangkanya. :-)
Pages
Social networks
Help to translate
Don't laugh, appreciate please!Daily Popular
Popular Posts
- Tips Belanja Crocs Sale di Senayan City (23664)
- Kata Cinta (13009)
- Tiga Cara Atasi Mencret (11161)
- Kata-Kata Mutiara (3422)
- Ngetes XL Internet Unlimited di Kosan (3154)
- Setting MMS and GPRS for LG KG200 with Simpati Telkomsel (3143)
- Perjalanan Cinta Sejati (2653)
- Nokia Chat (2430)
- IM2 Speed Test, awesome in my room! (2090)
- Chord “Tak ada yang bisa” (2089)
- Popular posts by Top 10 plugin
Comments
Guskar on Tiga Cara Atasi Mencret
franchise mall on All I Ask of You – ITB Graduation Ceremony July 2008
zhuhdi on Tiga Cara Atasi Mencret
zhuhdi on Tiga Cara Atasi Mencret
APRIL on Delapan Sumber Inspirasi Menulis
Cari Duit on Tiga Cara Atasi Mencret
agil asshofie on Tiga Cara Atasi Mencret
tarisya carmenita pal on Puisi Surga
Tags
amazon arung jeram badminton Bangladesh blog Chord Cicatih Cinta crocs Curhat Dhaka facebook fakta Foto google gulshan hold indonesia Jalan-Jalan kata-kata cinta kata puisi cinta kuliner lagu love luar negeri lyrics mandi mencret microsoft MMS music Musik okezone perjalanan poem puisi Renungan rip routing semangat Song Sukabumi Tutorial wordpress yahooArchives
- October 2011 (1)
- September 2011 (1)
- July 2011 (1)
- June 2011 (1)
- May 2011 (1)
- January 2011 (3)
- December 2010 (2)
- November 2010 (1)
- July 2010 (3)
- June 2010 (7)
- May 2010 (4)
- April 2010 (14)
- March 2010 (5)
- February 2010 (4)
- January 2010 (9)
- November 2009 (2)
- September 2009 (4)
- August 2009 (1)
- July 2009 (2)
- June 2009 (3)
- May 2009 (2)
- April 2009 (6)
- March 2009 (6)
- February 2009 (1)
- January 2009 (3)
- December 2008 (2)
Friend's Blog
- Aditya Arie Nugraha
- Andry Ongkinata
- Bagus Prasetyo Wibowo
- Benedictus Widi Handoyo
- Bernardus Ari Kuncoro
- Bimas Abimanyu
- Budi Rahardjo
- Christine Siagian
- Credo Sibuea
- Damar
- Dana Satriya
- Dhemy Larasati
- Dias Ramadhan
- Dinda Elefani
- Dwi Larasatie Nur Fibri
- Fajar Fathurrahman
- Fajar Sastrowijoyo
- Grace Sahertian
- I Made Anantha Setiawan
- Irsalina Salsabila
- Irvan Tambunan
- Kemas Zakki Arief
- Khiko Rayesmara
- M. Arif Wicaksana
- M. Saiful Hidayat
- Made Geminastika
- Maria Elisabeth Suryatriastuti
- Marina Tampubolon
- Michael Hutagalung
- Mikha Valerint
- Randy H. W.
- Reza Aditya Permadi
- Rudy Sihombing
- Shana Fatina
- Sofwan Ardyanto
- Triadimas Satriya
- TurunBeratBadan
- Vanya Vabrina Valindria
- Veravinna Handoko
- Widianti Gunawan
- Wildan Aliviyarda

